Berita

Misi Ulinnuha Membaca Kerentanan Iklim di Pulau Kecil Utara Gresik

Gresik – Di Bawean yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota dan ruang akademik global, sebuah penelitian penting tengah dirajut. Pada Kamis, 7 Mei 2026, di Pos Riset Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Ulinnuha Yuri, S.T., melakukan rangkaian diskusi mendalam untuk mengungkap satu pertanyaan besar, seberapa rentan Pulau Bawean terhadap perubahan iklim, dan bagaimana masa depan sektor pariwisatanya dapat diselamatkan?

Ulinnuha sendiri merupakan mahasiswi Graduate Student Economic Planning and Public Policy Program dari National Graduate Institute for Policy Studies. Penelitiannya bertajuk “Assessing Climate Vulnerability and Developing Adaptation Strategies in Bawean Island’s Tourism Sector” ini tidak sekadar menjadi bagian dari studi akademik. Ia menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan realitas lapangan di kawasan konservasi.

Berbeda dari banyak pendekatan riset lapangan yang bersifat eksploratif langsung, Ulinnuha memilih jalur yang lebih berhati-hati, mengandalkan pengumpulan data dari berbagai pihak termasuk Balai Besar KSDA Jawa Timur sebagai pemangku kawasan Suaka Alam Pulau Bawean. Pendekatan ini bukan keterbatasan, melainkan bentuk kesadaran etis terhadap prinsip konservasi: bahwa menjaga ekosistem tetap utuh adalah prioritas utama, bahkan dalam proses penelitian.

Dari dialog yang terbangun bersama tim RKW 09, tergambar bahwa kondisi kawasan konservasi Bawean secara umum masih terjaga, khususnya pada blok inti. Namun, tekanan mulai muncul di wilayah penyangga, ruang di mana interaksi manusia dan alam berlangsung paling intens.

Melalui perspektif ilmiah yang dibangunnya, Ulinnuha menangkap sinyal-sinyal perubahan yang sering luput dari perhatian: pergeseran pola iklim lokal, perubahan sistem hidrologi, hingga indikasi perubahan perilaku satwa liar. Temuan-temuan ini memperkuat satu kesimpulan awal, bahwa pulau kecil seperti Bawean memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap perubahan iklim.

Dalam konteks pariwisata, penelitian ini juga menggarisbawahi paradoks yang tak terhindarkan. Di satu sisi, pariwisata menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat. Namun di sisi lain, tanpa pengelolaan berbasis daya dukung lingkungan, aktivitas tersebut berpotensi mengikis fondasi ekologis yang justru menjadi daya tarik utamanya.

Karena itu, kedepan arah yang ditawarkan dalam penelitian ini tidak sekadar adaptasi, melainkan transformasi: mendorong pengembangan ekowisata berbasis konservasi, yang menempatkan kawasan penyangga sebagai ruang pemanfaatan, sekaligus menjaga kawasan inti tetap steril dari tekanan.

Lebih jauh, riset ini juga menegaskan pentingnya peran institusi pengelola kawasan konservasi sebagai simpul penghubung antara kepentingan ekologi dan pembangunan. Dalam hal ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur menjadi aktor kunci, bukan hanya sebagai penjaga kawasan, tetapi juga sebagai fasilitator kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan praktik pengelolaan di lapangan.

Bagi Ulinnuha, Bawean bukan sekadar lokasi penelitian. Ia adalah lanskap hidup yang menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana dunia menghadapi krisis iklim, dimulai dari pulau kecil, dengan dampak yang nyata.

Dan dari sana, sebuah pesan sederhana namun mendalam muncul, bahwa masa depan pariwisata tidak hanya bergantung pada keindahan yang terlihat, tetapi pada ketahanan ekosistem yang sering kali tak terlihat.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik