Antara Pasar, Iklim, dan Hutan: Dilema Nyata KTH di Pulau Bawean
Gresik – Di Pulau Bawean, garis batas antara hutan, laut, dan kehidupan manusia tidak pernah benar-benar tegas. Di sanalah, pada 5–7 Mei 2026, tim Balai Besar KSDA Jawa Timur menapaki jalur-jalur, menyapa satu per satu Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan, mencari jawaban atas satu pertanyaan mendasar, bagaimana konservasi bertahan ketika pasar berubah, iklim bergeser, dan masyarakat harus tetap bertahan?
Pendampingan yang dilakukan bukan sekadar agenda administratif. Ia adalah upaya membaca denyut nadi di tingkat tapak, tempat di mana kebijakan diuji oleh realitas. Melalui pendekatan anjangsana dan dialog langsung, potret yang muncul jauh lebih kompleks dari sekadar angka produksi atau struktur organisasi kelompok .
Di sektor hasil hutan bukan kayu seperti aren, yang dilakukan oleh KTH Mustika Aren, terlihat adanya peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah produk. Dinamika pasar yang berkembang menjadi ruang pembelajaran bagi kelompok untuk terus memperkuat tata niaga dan memperkokoh kelembagaan, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata dan berkelanjutan.
Sementara itu, di wilayah pesisir, di KTH Putra Daun, aktivitas budidaya yang dijalankan masyarakat menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi tantangan lingkungan. Fenomena pasang air laut yang terjadi secara berkala mendorong kelompok untuk semakin adaptif, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan usaha alternatif seperti kakao yang tengah dirintis melalui dukungan lintas sektor.
Pada komoditas madu oleh KTH Mutiara Madu, dinamika yang terjadi menjadi pengingat penting akan eratnya hubungan antara keberhasilan usaha dan kesehatan ekosistem. Perubahan kondisi lingkungan mendorong perlunya penguatan teknik budidaya sekaligus upaya menjaga keberlanjutan habitat pakan alami. Di sisi lain, hal ini juga membuka peluang peningkatan kapasitas kelompok dalam pengelolaan usaha yang lebih adaptif terhadap perubahan.
Di tengah semua itu, satu benang merah menjadi jelas: permasalahan yang dihadapi KTH di Pulau Bawean tidak berdiri sendiri. Ia adalah simpul dari tekanan ekonomi, dinamika sosial, dan perubahan ekologis yang saling berkelindan. Pendampingan yang dilakukan menegaskan bahwa pendekatan konservasi tidak lagi bisa parsial. Ia harus menyentuh tata kelola kelembagaan, stabilitas rantai nilai, sekaligus ketahanan terhadap perubahan lingkungan.
Meski demikian, ada satu hal yang tetap bertahan, bahkan menguat. Kesadaran masyarakat bahwa kawasan konservasi bukan sekadar ruang larangan, melainkan ruang hidup bersama. Dalam setiap pertemuan, tersirat pemahaman bahwa menjaga hutan berarti menjaga masa depan mereka sendiri. KTH di Pulau Bawean perlahan menempatkan diri bukan hanya sebagai pelaku usaha, tetapi sebagai penjaga batas yang tak terlihat antara eksploitasi dan keberlanjutan .
Di sinilah konservasi menemukan maknanya yang paling nyata. Bukan di atas kertas kebijakan, melainkan di tangan-tangan masyarakat yang terus beradaptasi, bertahan, dan berharap. Di Pulau Bawean, di antara pasar, iklim, dan hutan, dilema itu nyata, namun begitu pula harapannya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik