Saat 33 Siswa Pamekasan ‘Disentuh’ Rahasia Satwa Liar Yang Selama Ini Tersembunyi
Pamekasan – Di sebuah ruang kelas yang biasanya dipenuhi deret angka dan rumus, suasana siang itu berubah menjadi jendela menuju hutan tropis Indonesia. Sebanyak 33 siswa dari kelas X dan XI SMAN 2 Pamekasan larut dalam pengalaman yang tak biasa, mengenal dunia kehutanan dan satwa liar langsung dari para penjaga garda depan konservasi, 7 Mei 2026.
Kegiatan bertajuk Visit to School yang digagas Seksi KSDA Wilayah (SKW) IV Pamekasan ini bukan sekadar sosialisasi. Ia adalah upaya menyentuh kesadaran generasi muda, tentang hutan yang tak selalu terlihat, dan satwa liar yang kerap tak terdengar suaranya, namun keberadaannya menentukan keseimbangan kehidupan.
Materi yang disampaikan mengalir dari hulu ke hilir ekosistem. Dimulai dari pengenalan kehutanan secara umum, tentang bagaimana hutan diklasifikasikan, bagaimana ia bekerja sebagai paru-paru kehidupan, hingga ancaman nyata yang terus menggerusnya. Di titik ini, siswa diajak memahami bahwa hutan bukan sekadar lanskap hijau, melainkan sistem kehidupan yang rapuh.
Memasuki sesi kedua, narasi beralih pada satwa liar, mengenalkan garis tegas antara yang dilindungi dan tidak, serta konsekuensi hukum yang mengiringinya. Di sinilah realitas konservasi diperlihatkan apa adanya: bahwa setiap tindakan manusia terhadap satwa liar memiliki implikasi ekologis sekaligus hukum.
Namun momen paling menyita perhatian terjadi saat sesi ketiga dimulai. Bersama komunitas Pecinta Reptil Kingdom Madura (Parking), para siswa diajak mengenal dunia reptil dari jarak yang lebih dekat, bahkan personal. Ketakutan yang semula hadir perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu. Reptil yang selama ini kerap diasosiasikan dengan ancaman, justru diperkenalkan sebagai bagian penting dari rantai kehidupan.
Pendekatan interaktif menjadi kunci. Dialog, demonstrasi, hingga pengalaman langsung menjadikan materi tidak hanya dipahami, tetapi juga dirasakan. Antusiasme siswa terlihat jelas, bukan hanya dari pertanyaan yang mengalir, tetapi juga dari cara mereka mulai memandang ulang relasi antara manusia dan alam.
Sebagai penutup, cinderamata sederhana menjadi sebuah kenangan. Namun lebih dari itu, yang dibawa pulang para siswa adalah benih kesadaran, bahwa konservasi bukan sekadar tugas pemerintah atau aktivis, melainkan tanggung jawab bersama, dimulai dari hal kecil dan dari usia yang muda.
Di tengah krisis keanekaragaman hayati yang kian nyata, langkah kecil di ruang kelas ini menjadi penting. Sebab masa depan hutan dan satwa liar Indonesia, pada akhirnya, bergantung pada seberapa dalam generasi hari ini memahami, dan peduli.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik