Berita

Sensus Saka Wanabakti 2026, Menjadi Kunci Arah Baru Konservasi Generasi Muda

Sidoarjo – Lebih dari 400 peserta dari berbagai penjuru Indonesia, mulai dari UPT KSDA, UPT taman nasional, unit pelaksana teknis Kementerian Kehutanan, Dinas Kehutanan, Swasta hingga lembaga pendidikan, berkumpul dalam satu forum daring (23/04/2026). Di tengah dinamika ancaman terhadap hutan yang kian kompleks, mereka tidak datang untuk membahas patroli atau penegakan hukum. Mereka datang untuk sesuatu yang jauh lebih mendasar, untuk membaca masa depan konservasi melalui data.

Momentum itu menandai dimulainya rangkaian Sensus Nasional Saka Wanabakti Tahun 2026, sebuah inisiatif strategis yang bertujuan memetakan kondisi riil gerakan generasi muda kehutanan di Indonesia. Sensus ini tidak hanya menghitung jumlah, tetapi menyelami struktur, keberadaan pangkalan, kesiapan pamong dan instruktur, hingga potensi serta minat anggota Pramuka Penegak dan Pandega dalam bidang kehutanan.

Di balik pendekatan yang tampak administratif, tersimpan sebuah pertaruhan besar, arah pembinaan generasi muda konservasi di masa depan. Selama ini, banyak program berjalan tanpa pijakan data yang utuh, membuat intervensi sering kali tidak tepat sasaran. Sensus ini hadir untuk menutup celah itu, menyatukan potongan-potongan informasi yang tersebar menjadi satu peta nasional yang komprehensif.

Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar partisipasi. Ia adalah titik refleksi, sejauh mana peran UPT dalam mendorong tumbuhnya Saka Wanabakti sebagai ruang kaderisasi penjaga hutan. Apakah pangkalan-pangkalan yang ada benar-benar hidup sebagai pusat pembelajaran? Apakah generasi muda melihat kehutanan sebagai panggilan, atau hanya sebagai pilihan sesaat?

Di lapangan, realitas tidak selalu seragam. Ada wilayah dengan pembinaan yang kuat dan berkelanjutan, namun ada pula yang masih berjuang membangun fondasi. Di sinilah sensus memainkan perannya, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami, lalu memperbaiki.

Lebih jauh, sensus ini menjadi pengingat bahwa konservasi bukan hanya soal menjaga kawasan, tetapi juga menjaga keberlanjutan nilai. Tanpa regenerasi, hutan hanya akan menjadi ruang sunyi yang kehilangan penjaganya.

Dan dari lebih dari 400 peserta yang terlibat pada hari itu, satu benang merah mulai terlihat, bahwa masa depan konservasi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan besar, tetapi oleh seberapa baik kita mengenali dan menyiapkan generasi yang akan melanjutkannya.

Hutan tidak hanya membutuhkan perlindungan hari ini, tetapi juga penjaga untuk masa depan dan semuanya dimulai dari satu hal, memahami siapa mereka. Dan Kita tidak bisa menjaga apa yang tidak kita pahami. Dan memahami hutan, hari ini, dimulai dari satu hal sederhana, yaitu data.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto