Jejak Bentung Yang Kembali, Harapan Baru Lutung Jawa Joko Tarub
Tuban – Kemunculan seekor Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) di kawasan Taman Wisata Joko Tarub memicu survei lapangan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur. Hasil pengamatan menunjukkan kawasan hutan desa yang melindungi mata air ini memiliki potensi sebagai habitat bagi primata endemik Jawa tersebut.
Di bawah rimbun kanopi pepohonan tua yang menaungi mata air Joko Tarub, sebuah kisah lama seolah kembali hidup. Masyarakat Desa Sumberagung, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, menyebutnya dengan nama “Bentung” sebutan lokal bagi Lutung Jawa, primata Jawa yang berstatus satwa dilindungi.
Ketika laporan mengenai kemunculan seekor lutung betina kembali terdengar dari kawasan Taman Wisata Joko Tarub, tim BBKSDA Jawa Timur segera melakukan survei pendahuluan untuk menelusuri keberadaan satwa tersebut sekaligus menilai kelayakan habitatnya.
Survei dilakukan pada Rabu, 4 Maret 2026, oleh tim Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas laporan masyarakat yang menyebutkan bahwa seekor Lutung Jawa masih terlihat di kawasan tersebut sekitar empat hari sebelum kegiatan survei dilaksanakan. Berdasarkan informasi warga, satwa tersebut diduga merupakan satwa lepasan pengunjung yang dilepas sekitar dua minggu sebelumnya.
Namun bagi para peneliti lapangan, kemunculan satu individu lutung tidak hanya menjadi cerita tentang seekor satwa. Ia juga membuka pertanyaan yang lebih besar, apakah hutan kecil di sekitar mata air ini masih mampu menjadi rumah bagi lutung jawa?
Survei lapangan dilakukan dengan menilai dua aspek utama, yakni aspek teknis ekologi habitat dan aspek administratif kawasan. Dari sisi ekologis, kawasan Taman Wisata Joko Tarub menunjukkan kondisi vegetasi yang cukup relatif baik.
Tim mencatat sedikitnya 35 jenis tumbuhan yang tumbuh di kawasan ini. Beberapa jenis pohon yang mendominasi antara lain Munung (Pterocymbium tinctorium), Bendo (Artocarpus elasticus), Trenggulun (Protium javanicum), dan Gondang (Ficus variegata). Vegetasi dengan pohon-pohon besar tersebut tidak hanya membentuk struktur hutan yang rapat, tetapi juga menyediakan sumber pakan alami serta pohon tidur yang dibutuhkan oleh primata arboreal seperti Lutung Jawa.
Ketersediaan air juga menjadi faktor penting yang mendukung kehidupan satwa liar. Di kawasan ini terdapat mata air Joko Tarub yang menjadi sumber air utama masyarakat desa, serta sebuah embung pertanian yang turut menjaga ketersediaan air di lingkungan sekitarnya.
Selama survei berlangsung, tim juga mencatat keberadaan setidaknya 14 jenis satwa liar yang masih menghuni kawasan tersebut. Salah satu satwa yang berpotensi menjadi kompetitor bagi Lutung Jawa adalah Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), yang dikenal memiliki kemampuan adaptasi tinggi di berbagai tipe habitat.
Meskipun demikian, secara umum kondisi kawasan dinilai masih cukup mendukung bagi kehidupan Lutung Jawa, terutama karena keberadaan vegetasi pakan, pohon tidur, serta konektivitas dengan kawasan hutan di sekitarnya. Potensi gangguan terhadap satwa liar di kawasan ini relatif terbatas. Namun demikian, aktivitas perburuan di sekitar kawasan tetap menjadi salah satu potensi ancaman yang perlu diantisipasi.
Taman Wisata Joko Tarub sendiri memiliki luas sekitar 9 Ha dan berbatasan dengan kawasan hutan Perhutani Gunung Sumber Agung, sehingga secara ekologis masih memiliki hubungan lanskap dengan kawasan hutan yang lebih luas.
Ingatan Lama Tentang Bentung
Bagi masyarakat Desa Sumberagung, keberadaan lutung sebenarnya bukan cerita baru. Warga setempat menyebut satwa ini dengan nama Bentung, dan mengingat bahwa kawasan hutan di sekitar mata air Joko Tarub dahulu pernah dihuni oleh sekelompok Lutung Jawa.
Seiring waktu, keberadaan kelompok tersebut tidak lagi terlihat. Namun kemunculan kembali seekor lutung di kawasan ini seakan membuka kembali kemungkinan bahwa habitat lama mereka belum sepenuhnya hilang.
Hasil survei pendahuluan menunjukkan bahwa secara umum kawasan Taman Wisata Joko Tarub memiliki potensi sebagai habitat bagi Lutung Jawa, baik dari aspek vegetasi, ketersediaan sumber air, maupun konektivitas dengan kawasan hutan di sekitarnya. Di tengah lanskap pedesaan yang terus berubah, hutan kecil yang menjaga mata air ini mungkin menyimpan harapan besar.
Ke depan, BBKSDA Jawa Timur akan melakukan kajian lanjutan terkait aspek legalitas pelepasliaran satwa liar, sekaligus memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa, masyarakat setempat, serta pihak terkait lainnya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun