Pulau Kecil, Peran Besar: Cagar Alam Pulau Noko dalam Jalur Migrasi Burung Dunia
Bawean – Tidak banyak orang mengetahui bahwa di perairan sekitar Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, terdapat beberapa kawasan konservasi yang memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati. Selain Cagar Alam Pulau Bawean dan Suaka Margasatwa Pulau Bawean, terdapat pula dua pulau kecil yang juga berstatus kawasan suaka alam, yaitu Cagar Alam Pulau Noko dan Cagar Alam Pulau Nusa.
Meski ukurannya relatif kecil dan jarang dikenal luas, kawasan-kawasan ini memiliki fungsi ekologis yang penting, terutama bagi burung air migran yang setiap tahun melintasi jalur migrasi internasional. Peran ekologis tersebut terlihat dari kegiatan Asian Waterbird Census (AWC) 2026 yang dilaksanakan oleh Seksi KSDA Wilayah III Surabaya pada 2 Maret 2026, di Cagar Alam Pulau Noko.
Asian Waterbird Census merupakan program pemantauan burung air yang dilakukan secara serentak di berbagai kawasan lahan basah di Asia. Kegiatan ini bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai jenis burung air, jumlah populasi, serta kondisi habitat yang mereka gunakan.
Data tersebut menjadi dasar penting dalam upaya perlindungan burung air dan pengelolaan habitatnya. Dalam kegiatan pengamatan di Pulau Noko, tim mencatat enam spesies burung air yang memanfaatkan kawasan tersebut sebagai tempat singgah.
Beberapa di antaranya merupakan burung migran yang melakukan perjalanan sangat jauh dari wilayah utara Asia menuju kawasan selatan. Jenis yang teridentifikasi antara lain Cerek Pasir Besar (Anarhynchus leschenaultii) sebanyak 19 individu, Cerek Besar (Pluvialis squatarola) sebanyak 18 individu, serta Cerek Kernyut (Pluvialis fulva) sebanyak 5 individu.
Selain itu, tim juga mengamati Gajahan Penggala (Numenius phaeopus) sebanyak 18 individu, yang termasuk satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.
Pengamatan juga mencatat keberadaan Dara Laut Tengkuk Hitam (Sterna sumatrana) sebanyak 3 individu, yang juga berstatus dilindungi. Serta Cerek Jawa (Anarhynchus javanicus), burung pantai yang merupakan jenis endemik Pulau Jawa dan juga berstatus dilindungi.
Keberadaan berbagai jenis burung tersebut menunjukkan bahwa Cagar Alam Pulau Noko masih berfungsi sebagai habitat penting bagi burung air, terutama sebagai tempat singgah bagi burung migran. Dalam perjalanan migrasi yang dapat mencapai ribuan kilometer, burung-burung ini membutuhkan lokasi untuk beristirahat dan mencari makan sebelum melanjutkan perjalanan menuju wilayah tujuan berikutnya.
Pulau Noko sendiri berada dalam jalur migrasi burung yang dikenal sebagai East Asian–Australasian Flyway, yaitu jalur migrasi yang menghubungkan wilayah Asia Timur hingga Australia dan menjadi salah satu koridor migrasi burung air terbesar di dunia.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., mengatakan bahwa keberadaan kawasan konservasi di wilayah perairan Bawean memiliki nilai strategis dalam menjaga jalur migrasi burung air. Menurutnya, pulau-pulau kecil seperti Pulau Noko memiliki fungsi penting sebagai tempat singgah bagi burung migran yang menempuh perjalanan sangat jauh.
“Pulau-pulau kecil di kawasan perairan Bawean memiliki peran ekologis yang sangat penting, khususnya sebagai habitat dan tempat singgah bagi burung air migran yang melintasi jalur migrasi internasional. Karena itu, upaya pemantauan dan perlindungan kawasan konservasi perlu terus diperkuat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan Asian Waterbird Census menjadi salah satu instrumen penting dalam memantau kondisi populasi burung air serta memastikan habitatnya tetap terjaga. Melalui kegiatan pemantauan rutin seperti ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur terus berupaya memastikan bahwa kawasan suaka alam tetap berfungsi sebagai habitat penting bagi satwa liar sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Di tengah luasnya perairan Laut Jawa, Pulau Noko mungkin terlihat kecil di peta. Namun bagi burung-burung yang menempuh perjalanan ribuan kilometer melintasi benua dan samudra, pulau kecil ini adalah tempat singgah yang sangat berarti dalam perjalanan panjang mereka.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda & Ach. Onky Pryono – Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
