Berita

Bukan Aksesori, Inilah Alasan Setiap Rusa Harus Memiliki Tanda!

Hujan turun sejak pagi. Bukan gerimis yang lewat sebentar, melainkan hujan panjang yang membuat tanah berubah gelap dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Tetes air memukul atap kandang, menciptakan irama konstan yang mengisi ruang, seolah alam ikut menjadi latar bagi pekerjaan yang sedang berlangsung.

Di balik pagar penangkaran Jamboo Kingdom, Tulungagung, beberapa Rusa Timor (Rusa timorensis)berdiri rapat, bulunya tampak lebih gelap karena lembap. Mereka mengangkat kepala setiap kali suara langkah mendekat. Mata liar itu tetap waspada, meski hujan membuat suasana melambat.

Hari itu (13/02/2026), tim dari Balai Besar KSDA Jawa Timur tetap bekerja. Cuaca bukan alasan untuk berhenti, sebab konservasi sering kali harus berjalan mengikuti ritme alam, bukan menunggunya menjadi ideal.

Di Bawah Hujan, Kerja Konservasi Tetap Berjalan
Air mengalir di sela kandang, membasahi sepatu petugas yang bergerak hati-hati membawa peralatan. Sebelum kegiatan dimulai, briefing singkat dilakukan di bawah naungan atap sederhana. Suara hujan membuat percakapan harus sedikit lebih keras, namun arah kerja tetap jelas, menjaga keselamatan satwa, menjaga efisiensi, dan memastikan proses berlangsung cepat.

Kegiatan penandaan ini bukan pekerjaan spontan. Koordinasi sudah dilakukan sejak November 2025, menyiapkan kandang jepit, peralatan, hingga alur kerja yang aman. Bahkan di tengah hujan, setiap tahap tetap mengikuti prosedur yang sama, karena dalam konservasi, ketelitian tidak boleh luntur oleh cuaca.

Saat Identitas Dipasang di Tengah Derasnya Air
Seekor Rusa diarahkan perlahan ke kandang jepit. Nafasnya terlihat lebih berat, uap tipis keluar di udara dingin pagi itu. Petugas bekerja cepat, nyaris tanpa suara selain gemuruh hujan di atas kepala.

Kemudian, tag kecil itu terpasang di telinga.Bukan hiasan. Bukan aksesori.

Warna pada tanda itu menyimpan informasi penting, jingga untuk generasi F0, hijau untuk F1, dan kuning untuk F2. Dengan sistem sederhana ini, setiap individu bisa langsung dikenali, garis keturunannya terbaca, data populasinya tercatat, dan masa depannya bisa dikelola dengan lebih tepat.

Di tengah hujan, sains tetap bekerja melalui detail kecil.

Kondisi lapangan membuat segalanya lebih menantang. Lantai kandang licin, pakaian petugas perlahan berat oleh air, dan waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar satwa tidak mengalami stres berkepanjangan.

Namun ritme kerja tetap terjaga.

Satu demi satu rusa ditandai. Tidak ada kepanikan, hanya gerakan terukur yang lahir dari pengalaman lapangan. Dalam durasi kurang dari tiga jam, sebanyak 55 individu berhasil ditandai, 8 ekor F0, 33 ekor F1, dan 14 ekor F2.

Di sela kegiatan, penjaga rusa dari pihak mitra turut berlatih langsung. Di bawah hujan yang sama, mereka belajar bahwa konservasi bukan sekadar teori, tetapi keterampilan yang harus diwariskan dari tangan ke tangan.

Hujan yang Menjadi Saksi
Saat kegiatan selesai, hujan belum sepenuhnya reda. Rusa-rusa itu kembali bergerak di kandang, sebagian merumput, sebagian berdiri diam sambil menggoyangkan telinga yang kini memiliki tanda kecil berwarna.

Dari kejauhan, perubahan itu hampir tak terlihat.

Namun di balik tag kecil tersebut, kini tersimpan identitas, sebuah data yang akan menjadi dasar keputusan konservasi ke depan. Di dunia pengelolaan satwa liar, data adalah perlindungan yang tidak bersuara: menjaga genetika tetap sehat, memantau pertumbuhan populasi, dan memastikan setiap individu tidak hilang dari catatan.

Lebih dari Sekadar Tanda
Hujan pagi itu mungkin hanya dianggap gangguan bagi banyak orang. Tetapi bagi para pekerja konservasi, ia adalah bagian dari cerita, pengingat bahwa alam tidak pernah menunggu kondisi sempurna.

Tanda kecil di telinga Rusa itu menjadi simbol kerja sunyi, upaya memahami sebelum mengendalikan, mencatat sebelum mengambil keputusan, dan menjaga sebelum kehilangan.

Di bawah langit yang basah, konservasi berjalan tanpa banyak sorotan. Namun justru dari pekerjaan sederhana seperti itulah, masa depan satwa liar sering kali ditentukan.

Penulis : Kiswanto & Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun