Invasive Alien Species Sudah Menyebar di Sempu

Balai Konsevasi Tumbuhan Kebun Raya Puwodadi – LIPI telah menemukan setidaknya 15 jenis tumbuhan yang masuk kategori Invasive Alien Species atau tumbuhan invasif. Hal itu terungkap saat mereka melakukan diseminasi hasil penelitian Kajian Diversitas Flora di Pulau Sempu pada 22 November 2017.

Diseminasi yang diadakan di Ruang Rapat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur tersebut mengambil judul “Jenis-jenis Tumbuhan Asing Invasif di Cagar Alam Pulau Sempu.” Adapun diseminasi dilakukan oleh tim peneliti yang diketuai oleh Ridesti Rindyastuti, M.Sc. dan didampingi oleh Ilham Kurnia Abywijaya, S.Hut., serta Lia Hapsari, M.Si.

Menurut Ridesti, pertumbuhan jenis invasif dapat berdampak menurunnya dan menghilangnya biodiversitas di suatu kawasan. Dan ancaman jenis-jenis invasif terhadap biodiversitas telah menjadi permasalahan global yang terjadi hampir di seluruh bagian dunia.

Kegiatan penelitian dilaksanakan tahun 2015 hingga 2017 itu mendapatkan 15 jenis tumbuhan invasif di Pulau Sempu, terdiri atas 8 jenis tumbuhan herbal, 5 jenis tumbuhan semak, 1 jenis merambat dan 1 jenis pohon. 7 dari 15 jenis termasuk dalam jenis yang paling berbahaya di dunia. Tumbuhan-tumbuhan invasif tersebut tersebar di beberapa lokasi di Sempu, namun 3 tempat terbanyak di Gladakan, Segara Anakan, dan Telaga Lele – Telaga Dowo.

Tim menjumpai jenis Imperata silindrica, Passiflora foetida, dan Lantana camara dengan melimpah di area Gladakan. Pada tepi barat pulau, tim juga menjumpai Synedrella nodiflora dan Chromolaena odorta.

Tim juga menjumpai 4 jenis tumbuhan invasif yang sulit untuk dikendalikan, seperti alang-alang, rumput teki, rumput belulang, dan enceng gondok. Menurut Ilham, 4 jenis ini sangat mudah untuk mendominasi suatu kawasan dan memiliki kemampuan tumbuh yang cepat. Bisa dibandingkan dengan alang-alang dan rumput teki yang menguasai sebuah kebun, petani akan kerepotan untuk membersihkannya. Apalagi jika tumbuhan tersebut menguasai suatu kawasan hutan yang sulit untuk dijangkau.

Ada teratai putih di Telaga Lele
Khusus di Telaga Lele dan Telaga Dowo menjadi kasus tersendiri, karena lokasinya yang jauh dari bibir pantai dan bukan jalur yang sering dilalui manusia. Pada kedua telaga ini dijumpai jenis tumbuhan enceng gondok (Eichhornia crassipes) dan teratai putih (Nymphaea alba).

Kemungkinan terbesar kedua tumbuhan tersebut bisa berada di kedua telaga adalah diintroduksi oleh manusia. Hal ini mengingat lokasinya yang jauh dari bibir pantai dan posisi tumbuhan tersebut yang berpola layaknya diberi jarak tanam.

Menanggapi pertanyaan terkait keadaan air di kedua telaga tersebut, mengingat enceng gondok dapat tumbuhpada kondisi air yang tercemar. Menurut Lia Hapsari justru pada awalnya enceng gondok tumbuh pada kondisi air yang baik dengan kandungan nutrisi yang cukup kaya. Namun saat enceng gondok telah menguasai perairan, secara perlahan kandungan air akan mulai menurun dan terjadi pendangkalan.

Terkait cara penyebaran tumbuhan invasif ke dalam wilayah cagar alam dapat dilihat dari beberapa pendekatan. Ilham menjelaskan mengenai pendekatan jalur. Saat jalur jalan setapak ke Segara Anakan semakin melebar dan banyak yang melaluinya, maka penyebarannya akan melimpah di sekitar jalur tersebut.

Kemungkinan terbawa arus laut bisa saja terjadi, namun sebarannya terbatas pada sekitar pantai saja. Akan menjadi berbeda saat pola sebarannya hingga telaga yang letaknya jauh dari pantai. Sehingga kemungkinan campur tangan manusia dalam pola sebaran menjadi bahan pertimbangan tersendiri, baik sengaja maupun secara tidak sengaja.

Lia Hapsari menekankan pada sifat dari tumbuhan invasif ini. Menurutnya tumbuhan invasif sangat oportunis sehingga ia bisa tumbuh di berbagai tempat dengan kondisi yang berbeda.

“Biasanya ia sangat struggle atau sangat kuat dalam bertahan hidup,” ujar wanita berjilbab ini. itu sebab sering dijumpai tumbuhan invasif dapat dijumpai pada lokasi-lokasi yang sulit untuk tumbuh.

Segera bergerak menghadapi invasive alien species
Beberapa saran bagi pemangku kawasan untuk melakukan pengawasan terhadap lokasi-lokasi yang menjadi tempat penyebaran spesies invasif ini. Selanjutnya tidak membiarkan terjadinya pelebaran terhadap jalan-jalan setapak atau jalur-jalur patroli. Dan, melakukan penyuluhan yang intensif mengenai tumbuhan invasif kepada masyarakat sekitar dan pengunjung kawasan.

Menanggapi pada beberapa jenis tumbuhan invasif yang sangat familier atau biasa dijumpai dimanapun termasuk hutan konservasi, Ridesti mengungkapkan kurangnya pengetahuan mengenai spesies invasif ini. Ia mencontohkan Kirinyuh (Chromolaena odorta) dan berbagai jenis rerumputan yang sekilas seperti biasa dan sama saja. Padahal sejatinya mereka bukanlah tumbuhan asli kawasan dan bukan tumbuhan Indonesia.

Menurutnya, referensi mengenai Invasive Alien Species masih dirasa kurang di Indonesia, untuk itu diperlukan pendataan secara terpadu oleh pengelola kawasan. Kegiatan identifikasi jenis-jenis tumbuhan invasif pada setiap kawasan konservasi akan sangat membantu sekali dalam melihat pola sebaran dan penanganannya.

Teks dan Foto
Agus Irwanto
agusirwanto@yahoo.com

Leave a Reply