Marak Terjadi Pencucian Asal Usul Koral, BBKSDA Jatim Lakukan Pembinaan

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur melakukan pembinaan pemanfaatan dan pengusahaan koral di Hotel Mahkota Plengkung Banyuwangi pada 23 Oktober 2017. Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kepala BBKSDA Jawa Timur, Direktur Eksekutif AKKII, Dinas Perikanan Banyuwangi serta para mitra pemanfaat koral di Banyuwangi.

Dalam sambutannya, Ayu Dewi Utari menjelaskan tentang potensi koral yang ada di Jawa Timur khususnya di Banyuwangi dan Kepulauan Madura. Ayu mewajibkan para pemanfaat koral untuk tunduk pada aturan yang berlaku dalam penatausahaan koral. Karena saat ini marak terjadi pencucian asal usul koral, yang mulanya koral dari alam kemudian disulap menjadi koral transplantasi. Namun demikian tindakan-tindakan tersebut dapat diketahui dan jika terbukti akan mendapatkan sanksi yang tegas.

Direktur KKH, Bambang Dahono Aji menyampaikan isu-isu strategis yang saat ini sedang dialami dalam penatausahaan koral. Yakni, koral Indonesia menjadi salah satu koral terbaik di dunia yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan telah menjadi sorotan dunia karena kecurangan yang dilakukan. Untuk itu Bambang menegaskan agar para mitra untuk mematuhi aturan dalam penatausahaan koral, juga meminta BBKSDA Jatim untuk terus melakukan pembinaan.

Saat ini Direktorat KKH sedang menyiapkan perijinan online pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar, untuk memberikan kemudahan kepada para mitra dalam melakukan kegiatan usahanya. Selain itu proses pengurusan ekspor impor tumbuhan dan satwa liar akan dilimpahkan ke wilayah yang dianggap sudah bisa melaksanakanya, salah satunya Jawa Timur.

Dalam paparannya Direktur Eksekutif AKKII berusaha untuk fokus terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para pemanfaat koral dengan melakukan pembinaan dan pengawasan. Diusulkan agar penerapan Penerimaan Negara Bukan Pajak berbasis rencana produksi karena umumnya para pemanfaat koral mempunyai rencana produksi yang banyak namun realisasinya maksimal 20%. Kedepan kuota tangkap alam akan semakin menurun sehingga saat ini transplantasi terus didorong untuk terus berkembang demi mengurangi ketergantungan dari alam.

Di akhir acara, Bambang meminta kepada AKKII dan juga pemanfaat koral di Banyuwangi untuk melakukan pendataan terhadap para pekerja yang berkecimpung dalam. Hal ini untuk memberikan gambaran ke CITES mengenai lapangan pekerjaan yang tercipta dari kegiatan penatausahaan koral.

Untuk menghindari overlapping, Bambang meminta pada Dinas Perikanan Banyuwangi untuk memetakan lokasi-lokasi yang masuk dalam kawasan konservasi laut di wilayah Banyuwangi.

 

Teks dan Foto
Dhany Triadi, S.Hut, M.Si
PEH Muda pada Subag. Evalap, data dan Kehumasan
dhanztriad@gmail.com

Leave a Reply