6 Ekor Rusa Bawean Siap Dilepasliarkan

Sebanyak enam ekor rusa bawean (Axis kuhlii) siap dilepasliarkan pada 5 November mendatang. Rusa-rusa tersebut berasal dari penangkaran rusa bawean yang berada di Pudakit, Pulau Bawean, dan lembaga konservasi Maharani Zoo Lamongan. Enam ekor rusa tersebut terdiri atas dua ekor jantan dan empat ekor betina.

Saat ini empat ekor rusa telah berada dalam kandang rehabilitasi yang letaknya tak jauh dari lokasi penangkaran. Sedangkan dua ekor lainnya masih berada di Pelabuhan Paciran Lamongan untuk diangkut menyeberang ke Bawean.

Petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur bersama tim medis satwa dari Maharani Zoo telah mengambil sampel darah, bulu, dan kotoran dari setiap rusa. Hal ini untuk memastikan kesehatan dari rusa-rusa yang akan dilepasliarkan.

Kandang habituasi sebagai tempat penyesuaian rusa terhadap lingkungan telah dibangun pada akhir September yang lalu. Letaknya sekitar 200 meter dari lokasi penangkaran dan telah masuk ke dalam Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Ukuran kandang ini 25 x 45 meter, dengan dibatasi oleh terpal dan jaring pada bagian dalamnya. Setiap dua hari sekali terpal akan diturunkan perlahan untuk memperkenalkan rusa dengan lingkungan barunya.

Proses habituasi belum dilaksanakan hingga saat ini, karena masih menunggu transmitter tiba dari Inggris. Diperkirakan transmitter ini akan tiba di Indonesia pada 24 Oktober mendatang. Penggunaan transmitter diharapkan dapat ikut membantu proses pemantauan pasca pelepasliaran nanti. Sehingga petugas dapat mengetahui lokasi penyebaran rusa-rusa yang dilepasliarkan.

Terlambatnya proses habituasi ini diharapkan tidak berdampak serius bagi rusa-rusa tersebut. Menurut Adnan Aribowo, koordinator pelepasliaran, biasanya rusa akan mengalami syok setelah pelepasan selama dua hingga tiga hari.

“Ia akan mengalami gangguan saat makan, namun setelah itu biasanya akan mulai terbiasa dengan keadaan yang ada,” ujarnya.

Karena minimnya waktu habituasi, maka akan diperkuat proses rehabilitasi yang sedang berlangsung, khususnya pada rusa yang dari Maharani. Upaya pengawasan yang ketat ini diperlukan saat sosialisasi antara rusa yang berasal dari Bawean dan Maharani.

Teks:
Agus Irwanto
agusirwanto@yahoo.com

Foto:
Bidang KSDA Wilayah II Gresik

Leave a Reply